Album yang Mengubah Hidup: “Sajama Cut” Marcel Thee

Namanya baru-baru ini ditambahkan ke daftar 10 Jurnalis Musik Favorit. Dia adalah vokalis Sajama Cut Marcel Thee, yang sekarang bekerja di jurnalisme – sebagai Pemimpin Redaksi di The Jakarta Post. Selain itu, ia juga mengambil pekerjaan copywriter, konsultan branding, penelitian dan lain-lain.

Jauh sebelum terjun ke dunia jurnalistik, Marcel pernah membentuk band bernama Idiotic pada tahun 1995, yang kemudian berubah nama menjadi Roswell. Perubahan nama tidak pernah terjadi sekali sampai Sajama Cut menjadi pilihan terakhir.

“Kami merilis album independen pertama kami pada tahun 1999, dengan cover album dibantu oleh Eric Wiryanata dari Deathrockstar. Saya juga melakukan Deathrockstar dengan dia. Roswell ini pada dasarnya merupakan bentuk awal dari Sajama Cut dengan anggota yang relatif sama. Juga pada tahun 1999 kami mengubah nama kami menjadi Sajama Cut,” kata Marcel kepada Pophariini (12/05).

Sebanyak lima album penuh telah diproduksi oleh Marcel menggunakan Sajama Cut, termasuk Apologia, The Osaka Journals, Manimal, Hobgoblin dan Godsigma. Rekor ini tidak termasuk single Le Internationale dan album remix yang dirilis, yang menampilkan produser musik dari seluruh dunia, serta album softcore, yang menampilkan lagu-lagu lama yang dibawakan secara akustik oleh musisi tamu termasuk Asteriska dan Endah N Rhesa.

Karya musik yang dihasilkan tidak hanya itu. Marcel juga memiliki proyek bernama The Knife Club, sebuah grup musik kolektif dengan musisi yang disukainya dari scene independen lainnya. Padahal, Marcel sempat merilis album solo pada 2012.

Setelah terakhir kali merilis album Godsigma di masa pandemi, tepatnya di bulan Oktober 2020, Marcel dan Sajama Cut punya beberapa rencana besar di tahun ini yang akan segera mereka umumkan.

“Yang utama adalah rilis besar-besaran, dan selain itu, kami mulai bermain aktif lagi. Inilah yang kami tunggu-tunggu, karena album Godsigma akhirnya bisa dimainkan secara live. Kami mendapat banyak pesan dari Sajama Kids [sebutan fans Sajama Cut, ed. Merah.] untuk memainkan Godsigma secara langsung. Akhirnya mendapatkannya. Kami juga kembali dengan formasi baru yaitu Chef’s Kiss. Tidak main-main, para pemain baru ini. Saya tidak sabar untuk membawanya ke atas panggung,” pungkas Marcel.

Kembalinya Sajama Cut dengan formasi baru akan mengisi panggung secara live di I Don’t Give A Fest pada Sabtu, 14 Mei 2022 di Antasore Japanese Dining, Jakarta Selatan.

Sebelum itu, simak penjelasan Marcel Thee tentang album yang mengubah hidupnya.

Boneka – Mk II dan Coil – S/T Sajama Cut

Marcel Thee tidak hanya memilih satu untuk album yang mengubah hidupnya. Dia segera menjawab beberapa. Pertama, album Puppen yang berjudul Mk II. Kedua, album self-titled Koil. Bahkan, Marcel menyebutkan bahwa dia juga berada di balik album Megaloblast Koil sampai batas tertentu.

Tentu ada cerita menarik saat Marcel pertama kali mendengar album-album pilihannya. Di era maraknya album-album independen, ia kesulitan mendapatkan jasadnya di Jakarta. Marcel harus pergi ke Bandung untuk mengunjungi toko Reverse Richard Mutter hanya untuk mencari band-band underground lokal.

Berbeda dengan saat ia mendapatkan album Puppen and Koil. Ternyata Marcel berhasil menemukan kedua album tersebut di Jakarta.

“Alhamdulillah album Mk II bisa dibeli dari Aquarius Blok M. Itu bisa tahun 1998. Kemudian saya juga membeli Koil di toko kaset di Arion Plaza di Rawamangun. Saya sempat membuat daftar nama band indie lokal karena jumlahnya sangat sedikit, dan setiap kali saya pergi ke toko kaset, saya berharap ada penyihir yang menyediakannya. Ketika saya melihat nama band Koil di 96 atau 98 saya lupa. Saya langsung membelinya. Harganya bahkan belum 10.000 saat itu,” kata Marcel.

Ketika ditanya mengapa dia memilih album untuk mengubah hidupnya. Marcel mengatakan Puppen dan Koil adalah band lokal yang memiliki kualitas band internasional tanpa terdengar menjiplak.

“Dengan lirik yang tidak klise, penuh hati dan karakter. Sulit dijelaskan tanpa konteks zamannya. Tapi hal ini sangat menonjol di saat semua musik lokal hanya musik pop. “Biasa” orang untuk diajak bicara. Hanya orang gila musik seperti saya, “kata Marcel.

Lagu favorit Marcel adalah “Lelah” dan “Bersatu Tinju” di album “Puppen Mk II”. Dia juga memilih lagu dari album self-titled Koil Time that Stops.

“Saya sempat bertanya soal pembunuhan Ucok. Apa yang diteriakkan di bagian rap ‘United Fist’? Saya dulu berpikir mereka mengatakan sesuatu tentang ‘Piaza’. Bukan [tertawa].”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.